Mahasiswa, sudahkah membaca?

reading

Mahasiswa seharusnya banyak membaca. Tapi ternyata, menurut salah satu studi yang dilakukan Farida (2012) mahasiswa lebih banyak melakukan aktivitas lain ketimbang membaca. Demikian salah satu kesimpulan dari Farida (2012):
Membaca ternyata bukanlah kegiatan yang dilakukan setiap hari, terbukti dengan hasil survey yang menyatakan nihil alias tidak seorangpun mahasiswa yang membaca setiap hari. Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan mengingat membaca seharusnya menjadi “reading habit” bagi mahasiswa.

Nah, salah satu sebabnya ternyata adalah “labeling” dari teman-teman kampus bahwa perilaku membaca itu identik dengan kutu buku, mahasiswa teladan, dst, sehingga para mahasiswa enggan membaca di tempat umum di kampus, juga enggan masuk ke perpustakaan karena di olok-olok teman-temannya. Ini disebutkan Farida (2012) dalam kesimpulan studi sebagai berikut:

Satu hal yang mengejutkan kemudian adalah 8,77 % responden enggan masuk perpustakaan karena malu dan rendah diri diolok-olok teman-temannya. Disebut sebagai “Mahasiswa teladan”, ‘Kutu buku”, atau “Sok rajin” menyebabkan mahasiswa mengurungkan niatnya masuk perpustakaan untuk membaca. Begitu pun mahasiswa yang membaca sambil duduk di tempat umum seperti cafeteria, taman-taman kampus atau bahkan di ruang tunggu ruang dosen akan mendapat komentar dari teman-temannya “Rajinnya ….” atau “Nah gitu dong, A student…” dan komentar-komentar lain yang serupa dan menurunkan semangat.

Prihatin sekali… Tetapi yang mengherankan, para mahasiswa sekarang tetap bisa lulus dan mendapat gelar sarjana walaupun tidak pernah masuk ke perpustakaan, masuk aja tidak, apalagi baca buku. Bagaimana bisa? Banyak sekali kemudahan dari internet yang memungkinkan mahasiswa lebih suka mengambil bahan dari internet, atau karena memang si mahasiswa tidak pernah mengerjakan sendiri semua tugas-tugasnya, termasuk skripsi. Ada orang lain yang mengerjakannya…

Benarkah?

Referensi:

Farida., S. (2012). Faktor-Faktor Penyebab Keengganan Membaca Di Lingkungan Mahasiswa: Studi Kasus. Paper Seminar Nasional Bahasa 2012 – Fakultas Bahasa Universitas Widyatama 9 Mei 2012.

 

 

 

 

 

Advertisements

Resiprokalitas persepsi dukungan organisasi dan perilaku karyawan

personincompPersepsi terhadap Dukungan Organisasi (Perceived Organizational Support) atau disingkat POS diartikan sebagai suatu keyakinan karyawan pada organisasi tempat bekerja yang selanjutnya akan mendukung persepsi karyawan bahwa organisasi menghargai kontribusi karyawan dan memperhatikan kesejahteraan karyawan (Eisenberger, Huntington, Hutchison, Sowa, 1986).

Definisi POS yang lain adalah perspektif perilaku organisasi positif dimana karyawan merasa diperhatikan, diberi kepercayaan dan diberi dukungan oleh organisasi, sehingga karyawan bersedia mengabdikan diri pada organisasi dan meningkatkan kinerja secara keseluruhan (Lin, 2014). Perasaan positif ini menumbuhkan motivasi karyawan untuk bersama-sama mencapai tujuan organisasi. Oleh karena karyawan memandang kesuksesan maupun kegagalan organisasi merupakan tanggungan karyawan itu sendiri, maka persepsi tersebut akan mendorong karyawan berusaha, berkontribusi dan setia pada organisasi (Lin, 2014).

Hubungan Resiprokal

Persepsi terhadap dukungan organisasi yang ada pada karyawan membuatnya merasa berkewajiban untuk membantu organisasi, hubungan ini menjadi lebih besar di antara karyawan yang sangat mendukung norma timbal balik (resiprokal) pada hubungan karyawan dan pemberi kerja (Eisenberger, Armeli, Rexwinkel, Lynch, dan Rhoades, 2001).

Menurut asumsi teori dukungan organisasi, karyawan membentuk keyakinan seberapa jauh organisasi menghargai kontribusi karyawan dan peduli pada kesejahteraan karyawan.

Berdasarkan norma pertukaran (reciprocity), persepsi terhadap dukungan organisasi pada karyawan, akan menumbuhkan perasaan kewajiban untuk memperhatikan keberlangsungan organisasi dan membantu organisasi mencapai tujuan organisasi. Karyawan dapat membayar kebaikan organisasi dengan menunjukkan komitmen afektif pada organisasi dan upaya keras untuk membantu organisasi (Eisenberger, Stephen, Rexwinkel, Lynch, dan Rhoades, 2001). Monnastes (dalam Afzali, Motahari, Hatami-Shirkouhi, 2014) menyebutkan bahwa jika karyawan merasa didukung oleh organisasi, mereka akan merasa berkewajiban untuk peduli pada kesejahteraan organisasi dan melakukan upaya untuk membantu organisasi agar sukses dan mencapai tujuannya.

Silahkan di klik referensi dan jurnalnya. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi email may.dewi@gmail.com

Referensi:

Afzali, A., Motahari, A.A., Hatami-Shirkouhi, L. (2014). Investigating The Influence Of Perceived Organizational Support, Psychological Empowerment And Organizational Learning On Job Performance: An Empirical Investigation. Tehnički vjesnik 21, 3(2014), 623-629.

Eisenberger, R., Huntington, R., Hutchison, S., Sowa, D.,(1986). Perceived Organizational Support. Journal of Applied Psychology 1986, Vol. 71, No. 3,500-507 Copyright 1986 by the American Psychological Association, Inc.

Eisenberger, R., Stephen, A., Rexwinkel, B., Lynch, P.D. & Rhoades, L. (2001) Reciprocation of Perceived Organizational Support. Journal of Applied Psychology, 2001, Vol. 86, No.1, 42-51

Lin, Tsung-Liang. (2014). The Relationships among Perceived Organization Support, Psychological Capital and Employees’ Job Burnout in International Tourist Hotels. Life Science Journal 2013;10(3):2104-2112

Jurnal lain:

Ahmad, Z.A., Yekta, Z.A. (2010). Relationship between perceived organizational support, leadership behavior, and job satisfaction: An empirical study in Iran. Intangible Capital, 2010 – 6(2):162-184

Colakoglu, U., Culha, O., Atay, H. (2010). The Effects Of Perceived Organisational Support On Employees’ Affective Outcomes: Evidence From The Hotel Industry. Tourism and Hospitality Management, Vol. 16, No. 2, pp. 125-150, 2010

Eisenberger, R., Fasolo, P., Davis-LaMastro, V. (1990). Perceived Organizational Support and Employee Diligence, Commitment, and Innovation. Journal of Applied Psychology 1990, Vol. 75, No. 1, 51-59 @1990 by the American Psychological Association, Inc.,

Eze, I.C. (2014). Influence of Perceived Organizational Support and Self-Efficacy on Burnout. Research on Humanities and Social Sciences. Vol.4, No.24, 2014, 45-50.

Ghani, Nik Azida Abd. & Hussin, Tengku Ahmad Badrul Shah Raja. (2009). Antecedents of Perceived Organizational Support. Canadian Academy of Oriental and Occidental Culture 12/31/2009. Canadian Social Science. Vol.5 No.6 2009, 121-130

Han, S.T., Nugroho, A., Kartika, E.W., Kaihatu, T.S. (2012). Komitmen Afektif Dalam Organisasi Yang Dipengaruhi Perceived Organizational Support Dan Kepuasan Kerja. Program Manajemen Perhotelan, Fakultas Ekonomi, Universitas Kristen Petra, Surabaya, Indonesia. Jurnal Manajemen Dan Kewirausahaan, VOL.14, NO. 2, September 2012: 109-117

Latif, K.I., Sher, M. (2012). Perceived Organizational Support, Pay Satisfaction, and Supervisor Satisfaction Impact on Career Satisfaction. Abasyn Journal of Social Sciences Vol. 5 No. 1, 32-48.

Rhoades, L. Eisenberger, R. & Armeli, S. (2001). Affective Commitment to the Organization: The Contribution of Perceived Organizational Support . Journal of Applied Psychology, 2001, Vol. 86, No. 5, 825-836 Copyright 2001 by the American Psychological Association, Inc.

Rhoades, L. & Eisenberger, R. (2002). Perceived Organizational Support: A Review of the Literature. Journal of Applied Psychology. Copyright 2002 by the American Psychological Association, Inc. 2002, Vol. 87, No. 4, 698–714

Disertasi:

Liu, Wei. (2004). Perceived Organizational Support: Linking Human Resource Management Practices With Important Work Outcomes. Dissertation. Faculty of the Graduate School of the University of Maryland, College Park.

 

 

Egosentrisme Remaja

geng remaja

Ternyata, egosentrisme itu tidak hanya terjadi pada tahap perkembangan masa kanak-kanak. Ada yang disebut dengan egosentrisme remaja yang muncul di usia 11 atau 12 tahun yaitu pada periode transisi menuju ke dalam tahap operasional formal perkembangan kognitif dari Piaget. Pada remaja awal, berkembang pemikiran mentah dan imatur secara sosial yang didasarkan pada pemahaman yang tidak murni mengenai diri dan orang lain dimana remaja memiliki fokus diri yang kuat dan perasaan kepentingan diri serta salah memaknai pemikiran orang lain mengenai diri remaja itu sendiri (Elkind dalam Harvey, 2012).

Egosentrisme ini berbentuk imaginary audience (penonton khayalan) dan personal fable (dongeng pribadi).

Penonton khayalan (imaginary audience) ialah keyakinan remaja bahwa orang lain memperhatikan dirinya sebagaimana halnya dengan dirinya sendiri (Elkind dalam Beyth-Marom, Austin, Fischhoff, Palmgren, and Jacobs-Quadrel, 1993). Gejala dari imaginary audience ini adalah mencakup berbagai perilaku untuk mendapatkan perhatian seperti keinginan agar kehadirannya diperhatikan, semua aktivitasnya disadari oleh orang lain dan menjadi pusat perhatian. Remaja merasa bahwa mereka berada di atas “panggung” dan beranggapan bahwa merekalah pemeran utamanya, sementara orang lain adalah penontonnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa gejala imaginary audience lebih merupakan produk dari pikiran atau hanya ada dalam pikiran remaja, dan bukan yang sebenarnya terjadi. 

Dongeng pribadi (personal fable) merupakan akibat wajar dari imaginary audience. Dengan remaja berpikir bahwa dirinya sebagai pusat perhatian orang lain membuatnya percaya bahwa perhatian orang tersebut adalah karena dirinya spesial dan unik. Personal fable dicirikan oleh ketidakmampuan untuk membayangkan bahwa diri (the self) bisa saja sama dengan orang lain, dan menghasilkan perasaan ke-diri-an yang ekstrim (extreme individuation) (Greene, Walters, Rubin, & Hale,1996). Personal fable merupakan perasaan unik dari seorang remaja bahwa tidak seorangpun dapat mengerti bagaimana perasaan mereka sebenarnya. Bahkan mendorong perilaku merusak diri (self-destructive) oleh remaja yang berpikir bahwa diri mereka secara magis terlindung dari bahaya, misalnya perilaku beresiko seperti tawuran, seks bebas, terlibat geng remaja, begal, dan lain-lain.

Pada proses perkembangannya, biasanya egosentrisme mulai berkurang di usia 16 atau 17 tahun, atau bisa jadi di usia 15 tahun sudah berkurang. Secara umum egosentrisme memiliki hubungan terbalik dengan usia, artinya semakin bertambahnya usia maka egosentrisme akan semakin berkurang. Karena semakin tumbuh remaja menuju tahap dewasa, otomatis pemikirannya juga berubah, sehingga egosentrisme ini hilang sendiri pada perkembangan tahap dewasa (Elkind dalam Greene, Rubin, Hale, dan Walters, 1996).

Jadi, yang tertarik meneliti tentang egosentrisme, silahkan pilih-pilih dan download beberapa jurnal penelitian di bagian referensi atau di bagian jurnal lain. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi email may.dewi@gmail.com

catatan : ilustrasi diambil dari sini

Referensi:

Beyth-Marom, R., Austin, L., Fischhoff, B., Palmgren, C., & Jacobs-Quadrel, M. (1993). Perceived consequences of risky behaviors: Adults and adolescents. Journal of Developmental Psychology, 29(3), 549-563

Greene, K., Rubin, D. L., Hale, J. L., & Walters, L. H. (1996). The utility of understanding adolescent egocentrism in designing health promotion messages. Health Communication, 8, 131-152.

Harvey, A.M. (2012). Adolescent Egocentrism And Psychosis. University of Birmingham Research Archive. e-theses repository. School of Psychology. Faculty of Science. University of Birmingham.

Jurnal lain:

Alberts, A., D. Elkind, & S. Ginsberg. (2007). “The Personal Fable and Risk-Talking in Early Adolescence”. Journal of Youth Adolescence. 36: 71-76.

Enright, Robert D., Shukla, Diane G., Lapsley, Daniel K. (1980). Adolescent Egocentrism-Sociocentrism and Self-Conciousness. Journal of Youth and Adolescence, Vol.9, No.2, 1980.

Oda, A.Y. (2007). David Elkind and the Crisis of Adolescence: Review, Critique, and Applications. Journal of Psychology and Christianity Vol.26, No.3, 251-256 Copyright 2007 Christian Association for Psychological Studies.

Niegowski, Sara B., Evans, David C. & Epstein, Eden. (2010). Adolescent egocentrism and social media—does the psychology align? Psychster Inc. 2010. Psychology of social media.

Ryan, R.M., Kuczkowski, R. (1994). the Imaginary Audience, Self-Consciousness, and Public Individuation in Adolescence. Journal of Personality 62:2, June 1994. DukeUniversityPress.